baper artinya

Bunda Sering Baper? Atasi dengan 7 Cara Ini, Yuk!

Ada kawan yang curhat lantaran kemarin baru disindir oleh koleganya. Padahal, kolega tersebut hanya bermaksud memberikan masukan positif yang disampaikan langsung tidak di hadapan banyak orang.

Kali berikutnya, ada pula potongan video yang menunjukkan seorang ibu yang ngamuk di angkutan umum karena dipanggil nenek oleh penumpang yang lain.

Meski telah berkali-kali meminta maaf, ibu tersebut tetap marah dan malah melakukan tindakan fisik.

Beberapa contoh di atas adalah apa yang disebut dengan baper. Terbawa perasaan yang berlebihan hingga menimbulkan reaksi yang cenderung negatif.

Bila tidak dikendalikan, baper berpotensi membuat seseorang terkena stres bahkan depresi. Semua akibat perasaan yang menguasai logika berpikir dan menyebabkan keseimbangan hormon terganggu.

Bayangkan, kalau baper ini dialami oleh seorang ibu. Keseharian Bunda mengasuh buah hati bakal terganggu, hingga berisiko menularkan sifat baper ini ke si kecil.

Terus, bagaimana caranya supaya Bunda tidak baperan lagi?

1. Lakukan Hobi

Kekosongan waktu atau sebaliknya, waktu yang terlampau padat akan bermacam aktivitas, keduanya berkemungkinan menyebabkan Bunda berpikiran negatif.

Itulah mengapa sangat penting untuk mencari hobi yang bisa menyegarkan kembali hati dan pikiran Bunda.

Berkebun, membaca, atau mungkin menulis buku harian, apapun yang dapat mengisi waktu Bunda agar tidak ada kesempatan pikiran buruk menyelinap ke dalam benak.

baper dalam bahasa inggris
hgtv.com

2. Bergabung ke Komunitas yang Positif

Hobi akan makin terasah bila bergabung ke komunitas beranggotakan orang yang punya kegemaran sama dengan Bunda.

Komunitas ini bisa berada di lingkungan sekitar rumah atau mungkin di media sosial.

Namun, hati-hati memilih komunitas. Pastikan Bunda memeriksa terlebih dahulu bahwa anggota komunitasnya memang punya karakter positif dan fokus untuk mengembangkan potensi Bunda.

3. Latih Diri untuk Berpikir Logis

Jangan biarkan pikiran Bunda ditumpulkan oleh perasaan yang berlebihan. Temukan bermacam alasan logis sebelum emosi menguasai Bunda.

Misalnya, ketika melihat komentar negatif, jangan lantas mengambil hati apa yang Bunda baca. Justru, temukan berbagai alasan logis bahwa komentar tersebut tidaklah ditujukan untuk Bunda.

Cara lainnya, mulailah berprasangka baik kepada orang lain. Anggaplah mereka tidak tahu persis apa yang Bunda jalani sehari-hari.

4. Batasi Penggunaan Media Sosial

Tahukah Bunda bahwa era keterbukaan informasi dan kemajuan digital dibarengi dengan meningkatnya kasus gangguan psikologis?

Bukan berarti media sosial tidak bermanfaat. Jelas bukan itu. Akan tetapi, tentukan tujuan utama yang ingin Bunda lakukan ketika ‘berselancar’ di media sosial.

Dengan begitu, waktu pun tidak banyak dihabiskan hanya untuk membuka medsos. Bunda pun menjadi lebih produktif menjalani hari.

jangan baper lagi
rpmvacationrentals.com

5. Jangan Menumpuk Perasaan Negatif

Tumpukan perasaan negatif sangat mungkin membuat Bunda stres hingga depresi. Tumpahkan perasaan-perasaan tersebut melalui kegiatan-kegiatan positif.

Jangan sungkan untuk curhat dengan pasangan maupun kerabat yang dipercaya. Ingat, pastikan lawan bicara Bunda pendengar yang baik dan punya karakter netral.

6. Sering Berbagi

Percayakah Bunda, kalau membahagiakan orang lain bakal membuat hati Bunda pun turut berbahagia?

Nah, salah satu untuk menenangkan pikiran dan menjauhkan sifat terlalu sensitif adalah dengan berbagi dengan mereka yang punya keterbatasan.

Caranya ada banyak. Bisa dengan meningkatkan sedekah, membantu orang lain, atau tidak mempersulit orang lain.

Bahkan, Bunda bisa membahagiakan orang hanya dengan berbagi kutipan positif di beranda medsos pribadi. Mudah, bukan?

7. Tingkatkan Ibadah

Terakhir, mendekatkan diri pada Tuhan adalah solusi terbaik untuk menjauhkan diri dari karakter super sensitif.

Bukankah berprasangka baik memang diutamakan ketimbang berpikiran jelek ke orang lain? Cara membiasakan sikap ini bisa dimulai dengan meningkatkan kualitas ibadah Bunda.

 

Itulah beberapa hal yang bisa Bunda coba untuk mengatasi karakter baper. Yuk, ubah baper menjadi empati, Bun!

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Leave a Reply