10 Langkah Mudah Menerapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

furniture ramah lingkungan

Eco-friendly lifestyle atau gaya hidup yang ramah lingkungan makin popular di berbagai kalangan.

Pasalnya, masyarakat makin tersadar akan kondisi alam yang kian hari terus menurun.

Tercatat ada 3,22 juta ton sampah plastik yang dihasilkan setiap tahun di tanah air (sumber: cnbcindonesia.com, Juli 2019).

Mirisnya lagi, sekitar 1,29 juta ton dari timbunan sampah tersebut mencemari lautan Indonesia.

Hal tersebut yang lalu membuat Indonesia menduduki peringkat kedua dalam jumlah pencemaran sampah plastik di dunia. Jelas ini bukanlah posisi yang membanggakan.

ramah lingkungan menurut kbbi
leonel – pexel.com

Nah, sebagai warga negara yang peduli pada lingkungan khususnya kondisi alam negeri ini, alangkah baiknya kita melakukan upaya mengurangi sampah plastik.

Minimal kita mencegah timbunan sampah anorganik dan mengusahakan pengolahan limbah.

Lalu, apa saja yang bisa kamu lakukan?

1. Mengganti Barang Sekali Pakai dengan Berkali-kali Pakai

Tahukah kamu, kalau limbah terbanyak berasal dari sampah rumah tangga? (sumber: liputan6.com, 2014).

Ekstrimnya, sumber yang sama menuliskan bahwa perkiraan kuantitas sampah harian tiap individu mencapai 0,8kg per hari!

Sampah yang paling banyak selain plastik adalah kertas, logam, kaca, hingga karet.

Sumber sampah ini apalagi kalau bukan salah satunya barang-barang sekali pakai.

Popok, tisu, kapas, pembalut wanita, adalah sebagian dari banyak atribut rumah tangga yang banyak digunakan.

Sayangnya, kebanyakan rumah tangga masih memakai produk sekali pakai yang jelas membuat timbunan sampah makin bertambah.

Solusinya, kamu bisa mulai memakai popok kain, menstrual cloth (kain pembalut yang bisa dicuci), memakai kain untuk mengelap, hingga memilih kapas yang terbuat dari bahan katun.

Semua barang tersebut bisa berulang kali dipakai.

Selain mencucinya pun terbilang mudah, kamu pun bisa berhemat. Ketimbang beli berkali-kali, kamu jadi punya produk yang masa pakainya jauh lebih lama. 

kemasan ramah lingkungan jurnal pdf
angsarap.net

2. Menghindari Makanan Cepat Saji

Makanan cepat saji umumnya menggunakan kemasan plastik atau yang dikombinasikan dengan bahan alumunium foil.

Keduanya akan menumpuk di tong sampah rumah dan menambah jumlah limbah rumah tangga.

Bukan berarti kamu mesti seketika berhenti mengonsumsi makanan cepat saji. Namun, ada baiknya melakukan pengurangan yang signifikan mulai sekarang.

Selain lebih sehat, kamu juga mengurangi timbunan sampah rumah tangga. Jadi win-win solution, lho!

3. Bawa Bekal atau Makan di Tempat

Dewasa ini, makin banyak pegawai kantoran yang memilih untuk membawa bekal baik berupa makanan dan minuman sendiri.

Kamu juga bisa melakukan hal ini.

Bahkan, kawan dekat saya melakukan ini ketika pergi ke mana pun. Yup, ke mana pun.

Ekstrem memang, tetapi banyak manfaat yang dia ceritakan kepada saya usai menerapkan kebiasaan yang terasa repot bagi sebagian orang ini (termasuk bagi saya).

Satu hal yang penting untuk kamu perhatikan adalah jangan sampai bekal kamu malah menghasilkan sampah anorganik lagi.

Misalnya, membawa nasi bungkus dengan kemasan kertas.

Bila tidak ingin capek bawa pulang kotak makan, kamu bisa mengemas nasi atau bekal memakai daun pisang atau kemasan besek yang terbuat dari anyaman bambu. Tinggal buang saat makanan sudah dikonsumsi.

Lain halnya dengan bekal minuman. Mau tak mau kamu memang harus membawa botol minuman sendiri. Pastikan botol kamu BPA free, ya.

gelas ramah lingkungan
eatingrichly.com

4. Bawa Kemasanmu Sendiri

Bukan hanya membawa kotak makanan dan botol minuman, kamu pun dapat membiasakan membawa kemasan sendiri.

Sebagai contoh, ketika kamu hendak berbelanja ke pasar. Tahu, daging, atau sayuran dapat dibawa menggunakan kotak kemasan tanpa mesti memakai plastik.

Cara tersebut terbilang efektif dalam menekan penggunaan plastik. Hanya saja memang perlu pembiasaan. Soalnya beberapa orang masih berkomentar cara ini ribet.

Bayangkan, kamu bawa beberapa wadah saat pergi ke pasar. Belum lagi bila kamu ingin jajan makanan atau minuman di luar. Wadah pun jadi kewajiban untuk dibawa.

Namun, bila mempertimbangkan efek jangka panjangnya, opsi ini tak bakal terasa berat. Malah kamu akan merasa senang karena melakukan kebiasaan yang ramah lingkungan.

5. Menggunakan Perangkat Elektronik Seperlunya

Apa hubungannya perangkat elektronik dengan gaya hidup ramah lingkungan?

Hubungannya terletak pada gawai yang kemudian berpotensi menjadi sampah elektronik.

Jangankan mengolahnya, membuangnya sembarangan pun termasuk hal yang dilarang.

Penting untuk kamu ketahui bahwa sampah elektronik termasuk ke dalam kategori B3 yaitu bahan berbahaya dan beracun.

Itulah sebabnya, kamu mesti pandai memilih perangkat elektronik apa yang benar-benar kamu butuhkan.

Era sekarang ini, banyak gawai berharga murah dengan kualitas rendah.

Tak perlu menunggu tahunan, gawai lekas rusak dan sulit untuk diperbaiki. Kalau bukan perkara sulit perbaikannya, suku cadangnya yang sukar ditemukan.

Hasilnya, menumpuk di sudut rumah dan menjadi timbunan sampah elektronik (e-waste).

Padahal, e-waste pun bisa menimbulkan gangguan metabolism, lho!

Data YLKI menunjukkan bahwa kandungan e-waste seperti arsenik dan kadmium berkemungkinan menyebabkan gangguan pencernaan, menjadi pencetus kanker (bersifat karsinogenik), hingga keracunan serius bahkan kematian (sumber: ylki.or.id, 2012).

Jadi, apa yang bisa kamu lakukan? Saatnya memilah kembali limbah elektronik di rumahmu.

kampung ramah lingkungan cibinong
en.wikipedia.org

Bila mustahil diperbaiki dan memang hanya menjadi rongsokan tak terpakai, segeralah mencari tempat penampungan e-waste di wilayahmu.

Hal lain yang penting diperhatikan adalah untuk menimbang-nimbang lebih dalam tatkala akan membeli perangkat elektronik.

Jangan sampai kamu malah menambah sampah di rumah, ya.

6. Pakai yang Ada dan Perbaiki, Jangan Dibuang

Pola pikir perbaiki ketimbang dibuang sebenarnya cocok buat orang-orang yang ingin beralih menjalani hidup ramah lingkungan.

Pasalnya, barang yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Salah satu contoh barang yang bisa dipakai semaksimal mungkin adalah pakaian.

Sangat jarang orang yang hanya memiliki 8 lembar pakaian untuk digunakan dalam kesehariannya.

Faktanya, seorang hanya memerlukan maksimal 37 lembar pakaian untuk dikenakan dalam setahun (sumber: prelo.co.id, 2016).

Padahal, mungkin kamu (dan saya juga) punya lebih banyak pakaian tersimpan di lemari yang jarang dipakai.

Nah, jika kamu memang ingin menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan serta minimalis, coba pilah mana pakaian yang benar-benar digunakan dan mana yang tak terpakai.

Memang, kamu membutuhkan keteguhan hati untuk melakukan ini.

Saya pun kesulitan dan masih berjuang untuk terus mengurangi isi lemari yang jarang dipakai.

Dari pada akhirnya lapuk dan apek di lemari, akan lebih bermanfaat dibagi ke orang yang membutuhkan.

Parahnya lagi, ada sebagian pakaian yang memang disayang-sayang. Alhasil, pakaian tersebut benar-benar hampir tak pernah dikenakan.

Bukan cuma mengurangi jumlah pakaian, kamu juga harus bisa memperbaiki dan menjaga agar pakaian tersebut tetap layak pakai.

Kamu bisa pula memodifikasi dan memadupadankan pakaian dengan menilik ide-ide busana di berbagai media.

Contoh barang lain adalah telepon selular atau gawai sejenis. Berapa banyak yang lebih memilih ganti yang baru dibandingkan dengan melakukan perbaikan?

Kenyataannya, biaya perbaikan umumnya lebih murah ketimbang harga beli gawai baru. Meskipun balik lagi pada merk gawai yang kamu gunakan, ya. 

hp ramah lingkungan
en.wikipedia.org

7. Perhatikan Kualitas Barang yang Akan Kamu Beli

Berkaitan dengan poin sebelumnya, barang apa pun seharusnya dibeli berdasarkan manfaat yang diberikan serta kualitasnya.

Bukan berarti saya menyarankan barang-barang bermerk ternama.

Namun, faktanya kebanyakan merk ternama yang berani menyertakan garansi dengan durasi yang panjang terbukti lebih awet dan ramah lingkungan.

Harganya mungkin akan lebih mahal. Akan tetapi, bila dihitung dari lama penggunaan biasanya bakal sebanding.

8. Ramah Lingkungan pun Berarti Merawat Barang yang Kamu Miliki

Saya pernah bertanya kepada beberapa kawan saya, berapa banyak dari mereka yang menyempatkan membaca buku panduan pemakaian barang sebelum menggunakan perangkat yang mereka beli.

Jawabannya, jarang yang baca. Kebanyakan hanya melihat sekilas di bagian perakitan, cara menyalakan, dan lanjut langsung menggunakan alat apapun yang mereka beli.

Padahal, tiap barang—bahkan pakaian sekalipun, punya tata cara perawatan.

Hal ini biasanya tertulis di buku panduan, kalau kamu membeli gawai atau perangkat elektronik.

Kalau belinya baju, ada nama bahan dan kamu bisa mencari tahu secara daring atau tanya ke penjual cara merawatnya.

Selain menjaga barang tetap awet, kamu pun melindungi dompet kamu dari ‘kebobolan’ alias lebih hemat.

Terus bagaimana kalau tidak ada buku panduannya?

Kalau seperti itu maka tanyakan ke diri kamu sendiri. Yakin, kamu bakal beli barang tersebut?

Jangan sampai menambah benda dengan masa pakai singkat dan berujung menjadi limbah lagi.

disebut ramah lingkungan karena
faithfulwiththelittle.com

9. Memilih Produk yang Alami atau Ramah Lingkungan

Makin hari makin banyak produk alami. Artinya, produk bersifat organik, mudah terurai, dan ramah lingkungan.

Produk yang dimaksud di sini merujuk kepada detergen, sabun mandi, pasta gigi, hingga skincare.

Perlu diketahui, bukan hanya produknya yang bisa menghasilkan limbah berupa busa sabun yang mencemarkan air.

Akan tetapi, kemasan plastik dari produk-produk yang kita gunakan pun menjadi sumber masalah yang tak terelakkan.

Saat ini sudah ada opsi detergen dari lerak, pewangi pakaian dari essential oil, hingga skincare dengan kemasan yang re-useable.

Bahkan, beberapa skincare menawarkan diskon kalau kamu berkenan mengembalikan kemasan kosong produk ke outlet mereka.

Produk lokal yang alami juga sudah banyak, kok. Artikel berikutnya bakal saya kumpulkan beberapa referensi skincare alami yang juga environmental friendly.

10. Bersihkan, Pilah, dan Donasikan Sampah

Keberadaan sampah plastik, elektronik, dan sejenisnya memang belum bisa sepenuhnya kita hindari. Untuk kondisi ini, ada opsi yang bisa kita lakukan.

Pertama, kumpulkan semua sampah rumah tangga yang kamu miliki. Bersihkan sebisanya, cuci, lalu jemur agar tidak berjamur.

Kedua, pilah dan kelompokkan sampah yang sudah terkumpul.

Buat penggolongan mulai dari sampah kertas, plastik, elektronik, karet, pakaian bekas (layak maupun tak layak pakai), dan lain-lain.

Ketiga, kamu bisa menghubungi kanal-kanal pengolahan sampah yang terdekat di wilayahmu.

Sebagai contoh, saya yang berdomisili di Pamulang, Tangerang Selatan setiap bulannya telah terdaftar sebagai donatur sampah rutin di Outlet Dhuafa.

ramah lingkungan pengertian
Dokumentasi Penulis

Lembaga sosial ini mengolah limbah dan memastikan sampah kita tak berujung di tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah akan diolah sesuai kebutuhan.

Hasilnya mulai dari eco-brick, keset, hingga lilin dan kerajinan tangan lainnya.

Dari pengolahan limbah kita, uang yang dihasilkan dipakai untuk beasiswa anak-anak dhuafa.

Kalau kamu tertarik ikut serta menjadi donatur, bisa cek akun Instagram @outlet_dhuafa

Oke, saya sudah bahas beberapa cara memulai gaya hidup ramah lingkungan.

Semua butuh proses. Kamu bisa melakukan salah satu atau beberapa poin di atas secara bertahap.

Kamu juga bisa memberikan masukan dan saran membangun terkait gaya hidup ini. Jangan sungkan untuk sharing ya, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *